لَوْ أَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْآنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللهِ

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

هُوَ اللهُ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ* عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيمُ

هُوَ اللهُ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلَّا هُوَ* أَلْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 هُوَ اللهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى

يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Law anzalnaa haadza l-qur'aana 'alaa jabalin lara'aytuhu khaasyian mutashaddi'an min khasyyatillahi wa tilka l-amtsaalu nadhribuhaa linnaasi la'allahum yatafakkaruuna

HuwaLlaahu l-ladzii laa ilaha illa huwa 'aalimu l-ghaybi wa sy-syahaadati huwa r-rahmaanu r-rahiim

HuwaLlahu l-ladzii laa ilaha illa huwa l-maliku l-qudduusu s-salaamu l-muu'minu l-muhayminu l-'azizu l-jabbaaru l-mutakabbiru, subhaanAllaahi 'ammaa yusyrikuun

HuwaLlahu l-khaaliqu l-baari'u l-musawwiru lahu l-asmaa'u l-husnaa yusabbihu lahu maa fii s-samaawaati wa l-ardhi wa huwa l-'aziizu l-hakiim82

Seandainya Kami mewahyukan Al-Qur’an ini (kebenaran ini) di atas sebuah gunung (ego) kamu akan melihatnya tunduk dan hancur berkeping-keping karena takut kepada Allah (realisasi dari ketiadaan egonya atau ‘diri’ semu berkenaan dengan yang Esa yang ditunjuk oleh nama Allah). Dan perumpamaan-perumpamaan ini (bahasa simbolik) Kami tunjukkan kepada manusia agar mereka mau merenungkannya. HU itu Allah, tidak ada tuhan, hanya ada HU (karena HU adalah esensi batin dari realitas segala sesuatu yang nampak)! Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang disaksikan! HU itu Rahman (potensi sumber dari seluruh ciptaan, potensial kuantum) lagi Rahim (yang Esa yang mewujudkan ciri-ciri tak hingga dengan Nama-namanya serta pengalaman dunia tindakan dengan dan melalui pengamatan).

HU itu Allah, tidak ada tuhan, hanya ada HU! (karena HU adalah esensi realitas dari segala sesuatu yang nampak)! HU itu Malik (yang Esa yang Maha Kuasa yang mewujudkan Nama-namaNya sesuai kehendakNya dan mengaturnya di dunia tindakan sesuka Dia; yang Esa yang memiliki perbendaharaan atas segala sesuatu), Quddus (yang Esa yang bebas dan jauh dari terdefinisikan, terkondisikan dan terbatasi oleh fitur-fitur dan konsep-konsep yang diwujudkanNya), Salam (yang Esa yang memungkinkan keterbebasan dari kondisi-kondisi alami dan kehidupan jasmani dan memberikan pengalaman 'yakin'), Mu'min (yang Esa yang memungkinkan diperolehnya iman dan yang menuntun individu-individu melihat realitas mereka), Muhaymin (yang Esa yang melihat dan melindungi manifestasi Nama-namaNya dengan sistemNya sendiri), 'Aziz (yang Esa yang kehendaknya untuk melakukan sesuatu dilaksanakan sesuka Dia, tidak ada satu pun yang dapat menentangNya), Jabbar (yang Esa yang kehendaknya memaksa), Mutakabbir (yang Esa sang pemilik eksklusif kata 'Aku', ke'Aku'an Absolut hanyalah milik Dia)! Allah itu Subhan (yang Maha Tinggi dan suci mutlak) dari konsep-konsep ketuhanan yang mereka sifatkan kepadaNya! HU itu Allah, yang Khaliq (yang Esa sang Pencipta Absolut - yang Esa yang memunculkan individu menjadi ada dari tiada dengan Nama-namaNya), Bari (yang Esa yang menghiasi semua ciptaan [dari mikro hingga makro] dengan fungsi-fungsi dan rancangan-rancangan unik namun tetap  selaras dengan keseluruhan), lagi Musawwir (penghias dari bentuk-bentuk; yang Esa yang menunjukkan 'makna-makna' sebagai  'bentuk-bentuk' dan menyusun mekanisme pada para pengindera untuk bisa menginderanya); kepunyaanNya Nama-nama yang indah. Apapun yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah (dengan mewujudkan fitur-fitur dari Nama-nama yang menyusun esensi mereka, yakni dengan mengaktualisasikan pengabdian mereka). HU itu 'Aziz (yang Esa yang kehendaknya untuk melakukan sesuatu dilaksanakan sesuka Dia, tidak satupun dapat menentangnya) lagi Hakim (yang Esa yang kekuasaan ilmunya muncul dibawah samaran 'sebab-sebab', karenanya menciptakan sebab-akibat dan menuntun kepada persepsi keserbaragaman).

Berkenaan dengan manfaat dari ayat-ayat ini, Rasulullah (saw) mengatakan:

“Jika seseorang membaca akhir surat Al-Hasyr di siang atau malam hari dan mencapai akhir hayatnya kemudian meninggal, jika dia meninggal di siang hari maka dia akan masuk Surga karena membacanya di siang hari, dan jika dia meninggal pada malam hari  dia akan masuk Surga karena membacanya di malam hari.” (Ini adalah bagian surat yang dimulai dengan 'HuwalLahulladzii laa ilaaha illa Hu,,,').83

Hadits lain mengatakan:

“Barangsiapa mengatakan 'A'udzu billahi s-sami'i l-'aliimi mina sy-syaithaani r-rajiim' tiga kali di pagi hari kemudian membaca tiga ayat terakhir dari surat Al-Hasyr, Allah akan menunjuk tujuh puluh ribu malaikat baginya yang akan mendoakan ampunan baginya hingga malam hari. Jika orang itu meninggal di hari itu, dia akan meninggal sebagai seorang syahid. Jika dia meninggal pada malam hari, lagi-lagi, dia akan meninggal sebagai seorang syahid.”84



82Al-Qur'an 59:21-24

83   Al-Bayhaqi Syu'ab al-Iman, Ibnu Marduyah.

84   Musnad Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Bayhaqi Syu'ab al-Iman.

24 / 71

Ini mungkin menarik buat Anda

Anda bisa mengunduh Buku ini