Rahman Dan Rahim

Kita terbiasa mengucapkan kata Basmalah tanpa banyak pikir... Kemudian kita pun membaca Al-Fatihah untuk orang yang meninggal! Padahal Rasulullah (saw) telah mengingatkan kita, “Tiada shalat tanpa Al-Fatihah!”

Seperti kita ketahui, kalimat Basmalah adalah 'Bismillahi-r- Rahmani-r-Rahim'. Ini merupakan ayat pertama dari Al-Qur'an dan, berdasarkan pemahaman bersama, merupakan ayat pertama dari surat pembuka, Al-Fatihah.

Sebagian mengatakan Basmalah tidak dapat dianggap sebagai ayat pertama dari Al-Fatihah karena ayat pertamanya adalah 'Alhamdu lillahi Rabbil 'alamiin” (yakni, “Hamd kepunyaan Allah, Rabb-nya seluruh alam”). Topik ini telah dibahas secara rinci dalam tafsir Qur'an oleh almarhum Elmalili Hamdi.

Di sini, saya ingin mendekati topik ini dari sudut pandang yang berbeda dan mencoba mencerna alasan bagi pengulangannya. Yakni, jika Basmalah merupakan ayat pertama dari Al-Fatihah, lalu mengapa 'Rahmani-r-Rahim' diulangi lagi pada ayat yang ke tiga?

“Bismillahi-r-Rahmani-r-Rahim

Alhamdu lillahi Rabbil 'alamiin 

Ar-Rahmani-r-Rahim...”

Rahman Dan Rahim-2Saya ingin menarik perhatian Anda kepada misteri huruf 'Ba' di awal Basmalah. Saya telah menjelaskan misteri ini dalam buku Allahnya Muhammad dengan merujuk kepada tafsir almarhum Hamdi Yazir[1] berkenaan dengan huruf Ba:

Para penafsir mengklaim bahwa huruf Ba disini menunjukkan 'kekhususan' atau 'persatuan' atau juga 'mencari pertolongan'... Berdasarkan penafsiran ini, terjemah dari Basmalah (yang dimulai dengan huruf Ba) mestinya adalah: 'Untuk, atau atas nama Allah, yang Rahman dan Rahim' yang menunjukkan kesatuan. Ini dalah pengakuan 'kekhalifahan'. Memulai suatu aktivitas dengan kata- kata 'Atas nama Dia' berarti 'aku melakukan aktivitas ini berkaitan dengan, sebagai khalifah dari, sebagai wakil dari, dan sebagai agen dari Dia. Karenanya, aktivitas ini bukan aktivitasku atau orang lain melainkan aktivitas Dia semata'. Ini adalah hal kefanaan dalam Allah (fana fiLlah) yang berkenaan dengan konsep Kesatuan Wujud.

Rahman Dan Rahim-1Mengingat ilmu ini, kita bisa mengatakan bahwa, berdasarkan realitas yang ditunjuk oleh huruf 'Ba', sifat yang Rahman dan Rahim-nya Allah muncul dari diri. Karenanya, orang yang bersangkutan dapat meraih karunia-karunia yang Rahman dan Rahim, yang Nyata dan yang tersembunyi, melalui esensi dirinya sendiri.[2]

Ayat berikutnya menunjuk kepada aspek nyata dari benda- benda, yakni segi-segi alam semesta yang dapat dilihat sang individu. Dengan kata lain, semua benda yang dapat dilihat di semua dimensi wujud meneruskan keberadaannya dengan fitur-fitur
 yang Rahman dan Rahim yang hadir dalam komposisi-Nama dari esensi benda-benda itu (Rububiyyah).

Sementara ayat pertama menunjukkan Uluhiyyah sebagai turunan dari esensi seseorang, ayat ke dua dan ke tiga menunjukkan bahwa kesempurnaan Uluhiyyah, yang berasal dari titik Rububiyyah di dalam esensi setiap individu di alam semesta, terdiri dari fitur-fitur yang Rahman dan Rahim.

Ini berarti bahwa ayat pertama menerangkan misteri dari 'mengenal diri' dan ayat ke dua menunjukkan misteri dari 'mengenal realitas dari benda-benda (asyya)'.

Mengingat semua ini, mari kita merenungkan tentang siapa dan apa yang sebenarnya kita rujuk ketika mengucapkan bacaan ketika kita ruku dan sujud dalam shalat:

“Subhana Rabbiyal 'Azhim!” 

“Subhana Rabbiyal A'la!”

Apa makna dari Rabb-ku itu Subhan, 'Azhim dan A'la?

Apa maksud dibalik pengulangan perkataan ini? Apa yang semestinya kita fahami dan rasakan ketika mengucapkan doa ini?

Semoga Allah memberi kemudahan untuk memahaminya...

 

 

28 Februari 2003 

Raleigh – NC, USA



[1] Hal. 42-43 Jilid 1, Hak Dini Kur'an Dili, oleh Elmalili Hamdi Yazir

[2] Untuk informasi lebih jauh mengenai topik yang Rahman dan Rahim, silakan merujuk kepada buku Prinsip-prinsip Pokok Islam.

Ini mungkin menarik buat Anda

Anda bisa mengunduh Artikel ini