Cetak halaman

Informasi Pengantar Untuk Memahami Al-Qur’an

Naskah asli dari karya yang sedang Anda pegang dan akan Anda BACA ini bukanlah kitab yang berisi aturan-aturan dan perintah-perintah dari Tuhan di atas sana, yang mewahyukannya kepada nabi-kurir di muka bumi!

Ini merupakan Ilmu mengenai Realitas dan System (sunnatullah [merupakan hukum-hukum dan aturan Allah, yakni mekanika dari System dan hukum-hukum yang mengatur alam-alam yang mewujud]) yang disingkap oleh Rabb-nya seluruh alam (sumber dari makna-makna tak-hingga dari Nama-nama), dari kedalaman-kedalaman dimensi kepada kesadaran Rasulullah (ceruknya ilmu Allah, yakni titik fokal dari kosmos yang melaluinya ilmu ilahiah diekspresikan dan disebarkan), melalui tindakan pewahyuan (irsal)!

Mari tekankan dari awal bahwa…

Buku ini bukan terjemahan ataupun tafsir dari Al-Qur’an. Ia tidak akan pernah bisa menggantikan Al-Qur’an! Hanyalah sebuah upaya untuk saling berbagi mengenai satu atau dua aspek dari makna-makna Al-Qur’an yang berlapis-lapis!

Buku ini hanyalah sebuah jendela yang memandang Al-Qur’an melalui titik pandang yang dikaruniakan kepada hamba Allah, Ahmed Hulusi. Sungguh, ini adalah refleksi dari sebagian pemandangan saja yang nampak dari jendela ini!

Dasar titik pandang dari jendela ini bersesuaian dengan contoh berikut:

Ketika kedua mata kita dalam keadaan sehat dan berfungsi baik, pemandangan yang kita lihat akan nampak menyeluruh dan jelas. Mereka yang penglihatannya tidak sepenuhnya sehat akan mengenakan kacamata atau lensa kontak. Al-Quran layaknya sepasang lensa yang dianugrahkan Allah sehingga kita bisa mendapatkan penglihatan yang jelas dan sehat mengenai dua kebenaran; Kitab Semesta (Jagat Raya), dan Sistem (sunnatullah), untuk kita BACA dengan benar.

Untuk bisa melihat Realitas secara jelas dan utuh, kita memerlukan sepasang lensa waskita (basirah) dan ilmu, dimana huruf B sebagai lensa yang satu, sedangkan ilmu mengenai Yang Esa yang Mencukupi-DiriNya Sendiri secara Absolut (al-Ahad-us-Shamad) sebagai lensa yang lainnya.

Lensa yang pertama adalah huruf yang paling pertama dari Al-Qur’an; huruf B. Maknanya terungkap dalam kata-kata Nabi Muhammad (saw), “Bagian itu sama dengan keseluruhan” yang telah saya terangkan dalam pasal Realitas Holografik dalam buku saya Yang Maha Melihat (The Observing One). Setiap titik dipersepsikan sebagai bagian atau unit keberadaan, mengandung keseluruhan al-Asma (Nama-nama) dengan potensialitas lengkapnya.

Lensa yang satunya lagi, yakni ilmu mengenai Yang Esa yang Mencukupi-DiriNya Sendiri secara Absolut, telah disematkan di akhir Al-Qur’an, dalam surat al-Ikhlas (secara harfiah berarti ‘ketulusan’, dan merupakan nama dari surat terakhir dan terpendek dari Al-Qur’an). Ini adalah sebuah penekanan bahwa Yang Esa yang ditunjuk dengan nama Allahadalah Esa (Ahad) dan Mencukupi-DiriNya Sendiri secara Absolut (Shamad). Yaitu HU! Tidak ada yang ‘lain’ selain HU! Ash-Shamad berkonotasi keESAan yang Mencukupi DiriNya Sendiri secara Absolut yang tak sesuatu pun dapat ditambahkan atau dikurangkan kepadanya.’

Jika kedua kebenaran ini tidak menghasilkan satu pandangan, jiwa Al-Qur’an serta pesan yang ditujunya tidak akan pernah dicerap dengan benar; realitas dari ‘Tuhan di atas sana dan nabi di bumi’ tidak akan pernah diketahui.

Sungguh, buku ini berupaya untuk membantu pembaca mengevaluasi ayat-ayat Al-Qur’an dari sudut pandang Yang Esa yang ditunjuk denga nama Allah, Yang Esa yang Memenuhi DiriNya Sendiri secara Absolut.

Sepanjang pengetahuan kami, tidak pernah ada satu karya pun yang serupa dengan buku ini. Banyak karya yang dibuat yang isinya hanya menyampaikan uraian dangkal atau sekedar periwayatan Al-Qur’an, bukannya merefleksikan pesan dan jiwa aktualnya. Kebanyakan dari karya-karya ini menggunakan bahasa yang kabur sehingga tidak mengherankan jika banyak pembaca menilainya tidak menarik untuk dibaca. Upaya-upaya pedantik (sempit, akademik) yang selalu patuh pada penerjemahan ‘kata-perkata’ telah menurunkan nilai karya sastra agung abadi  ini menjadi teka-teki yang disalahfahami.

Selain itu, seperti yang akan Anda lihat ketika membacanya, karya sastra agung ini sering menggunakan beragam contoh dan perumpamaan untuk menjelaskan kebenaran yang berlimpah di dalamnya, memaksa pembaca untuk merenungkan makna-maknanya… Namun sungguh menyedihkan, sebagian besar masyarakat, dengan pemahaman yang terbatas, telah mengambil perumpamaan-perumpamaan Al-Qur’an ini secara harfiah dan menjadikannya sebagai hukum-hukum, memperkokoh keyakinan mereka kepada Tuhan yang di atas sana, utusannya yang di bumi, serta kitab langit yang mengandung ketetapan-ketetapanNya.

Saya berkeyakinan bahwa jika pemikiran inti dari Al-Qur’an dapat direfleksikan kepada pembaca, masyarakat akan memiliki pendekatan dan pemahaman lebih yang berbeda terhadap ilmu tertinggi ini.

Oleh karena inilah, sebelum Anda MEMBACAnya, saya ingin berbagi mengenai pesan pokok dan beberapa konsep dari buku ini – ilmu menurut pemahaman saya.

Sasaran inti dari Al-Qur’an adalah membantu orang-orang untuk memahami dan mengenal Yang Esa yang ditunjuk dengan nama Allah, dan untuk melindungi mereka dari gagasan Tuhan yang menuntun kepada dualitas (syirik)

Sementara keyakinan kepada Tuhan eksternal, sejauh manapun Dia berada di ruang angkasa, merupakan sokongan eksplisit terhadap dualitas (syirik), ide-ide pendorong bahwa ada keberadaan ‘lain’ yang memiliki kekuasaan disamping atau terpisah dari Allah (termasuk ego seseorang) adalah sebuah promosi implisit dari dualitas.

Ilmu (Kitab) yang telah turun untuk menyapa kemanusiaan telah memperingatkan para pengkajinya (evaluator) dengan perkataan berikut:

“Mereka yang mendukung ‘dualitas’ (memecah keberadaan; dengan menganggap ada sosok TUHAN DAN ada segala sesuatu YANG LAIN) adalah orang-orang yang telah tercemar!

“Mereka yang belum menyucikan dirinya dari pencemaran ini (dualitas; ide bahwa ada sosok Tuhan dan ada saya jugatidak boleh menyentuhnya (ilmu – Al-Qur’an… karena mereka tidak akan memahaminya!)”

“Sungguh, dualitas (menganggap keberadaan yang ‘lain’ yang ‘terpisah’ dari Yang Esa yang ditunjuk dengan nama Allah) merupakan kejahatan berat!”

“Dualitas adalah pelanggaran satu-satunya yang sudah pasti tidak akan dimaafkan Allah; segala kesalahan lain bisa dimaafkan jika Dia menginginkannya!”

Mereka yang ingin terbebas dari dualitas dianjurkan untuk beriman kepada Yang Esa yang ditunjuk dengan nama Allah.

Al-Qur’an menerangkan dua tahapan dari mengimani Allah sebagai:

A)   Beriman kepada Allah (termasuk keyakinan kepada Allah dengan dualitas)

B)   Beriman kepada Allah sesuai dengan makna huruf ‘B’.

Keimanan yang pertama menjelaskan perlunya membersihkan diri dari gagasan eksplisit dari dualitas yang dihasilkan dari ilusi Tuhan eksternal.

Keimanan yang ke dua mencakup keyakinan murni yang bebas dari dualitas implisit sekalipun, yang merupakan kecenderungan tersembunyi dari laku syirik dengan menyamakan ego seseorang atau diri-asumsi kepada Rabb-nya (al-Asma, yakni realitas Nama-nama yang mencakup realitas esensial seseorang).

Mari kita lihat bagaimana ilmu mengenai realitas diungkap melalui Sufisme (tasauf), yang banyak dicemoohkan orang, menjelaskan kesalahfahaman dualitas implisit dan bagaimana topik ini dibahas di dalam Al-Qur’an.

Ayat-ayat di bawah ini langsung diambil dari terjemahan Hamdi Yazir (di sini digunakan terjemahan Sahih internasionalnya). Perhatikan bahwa ayat ini tidak membicarakan waktu lampau, namun merupakan pembicaraan langsung kepada Rasulullah Muhammad (saw) tentang keyakinan orang-orang di sekitar beliau saat itu:

“Itu dari kabar gaib yang Kami wahyukan kepadamu, [Ya Muhammad]. Dan engkau tidak bersama mereka saat mereka menyusun rencana mereka ketika mereka bersekongkol.

Dan kebanyakan dari mereka, meskipun engkau berjuang [untuk ini], bukanlah orang-orang yang beriman.

Dan engkau tidak meminta bayaran kepada mereka. Ini tidak lain kecuali peringatan kepada seluruh alam.

Dan berapa banyaknya tanda-tanda di langit dan di bumi yang mereka abaikan ketika mereka, karenanya, berpaling.

Dan kebanyakan dari mereka tidak beriman kepada Allah kecuali di saat mereka menyatukan/menghubungkan yang lain dengan Dia.” (Al-Qur’an 12:102-107)

Sekarang, mari mengingat ayat dan peringatan yang sangat penting yang mendorong saya menulis buku Pikiran dan Keyakinan (Mind and Faith) – Surat ke 4 (an-Nisa): 136 yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad (saw) dan mengacu kepada orang-orang yang beriman di sekitar beliau:

Wahai kalian yang telah beriman; Aminu B’illahi’  Yakni, ‘Wahai kalian yang telah beriman, beriman lah kepada Allah sesuai dengan makna isyarat B.’

Apa ini artinya?

Artinya: Di antara semua alam yang disusun oleh makna-makna dari nama-nama Allah, realitas Anda, keberadaan, dan mahluk juga mengandung Nama Allah. Rabb Anda, Realitas sejati Anda adalah al-Asma (Nama-nama itu). Karenanya, baik Anda atau apapun di sekeliling Anda tidak lain adalah manifestasi-manifestasi dari Nama-nama ini. Jadi, janganlah Anda termasuk orang yang gagal melihat realitas tidak-mendua ini, atau menjadi orang yang mengakui keberadaan terpisah (seperti Tuhan) yang mereka yakini sebagai ‘yang lain’ selain Allah. Dualitas semacam ini hanya akan menghasilkan pembakaran (panas), baik di kehidupan ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Namun, ayat ke delapan dari surat ke-2 (al-Baqarah) menegaskan bahwa ketidakmampuan massa untuk memahami kebenaran-kebenaran tersebut sebagai manifestasi mereka (sebagai komposisi dari Nama-nama) tidaklah dalam posisi sebagai kaum intelektual:

“Dan di antara orang-orang itu ada berberapa yang mengatakan, ‘Kami beriman kepada Allah (sesuai dengan makna isyarat B)  dan Hari Akhir,’ namun mereka bukanlah orang-orang yang beriman (sesuai dengan makna isyarat B).

Karenanya, menghilangkan makna utama yang dicakup huruf B sebagai ‘dualitas implisit’ dan tidak memberikan perhatian yang layak kepadanya, sudah pasti menelurkan pemahaman keliru ‘Tuhan di atas sana, dan saya di muka bumi’, yakni menghasilkan pemahaman seperti yang ada sekarang ini.

Sedangkan…

Ketidakabsahan dualitas telah nyata sejak huruf yang paling pertama dari Al-Qur’an; huruf B, dari ayat (surat) pertama yang disebut Basmallah.’ Kebenaran ini, yang disembunyikan oleh para ulama Al-Qur’an karena pengkondisian yang mereka terima selama pendidikan, diperjelas pertama kali oleh Hazrat Ali sekitar 1400 tahun yang lampau.

Hazrat Ali, puncaknya kewalian, menunjukkan kebenaran ini, yang dianggap rahasia di jamannya, dengan kata-kata:

“Rahasianya Al-Qur’an adalah di dalam al-Fatihah (surat pembuka), rahasianya al-Fatihah ada di dalam B-ismillah, dan rahasianya B-ismillah adalah di dalam huruf B (ب). Dan aku adalah TITIK di bawah ‘B’ (ب)!”

Kebenaran yang ditunjukkan Hazrat Ali ini memegang peranan penting dalam Al-Qur’an sebagai simbol peringatan, yang awalnya dijumpai sebagai huruf B, huruf pertama dari ayat pertama ‘B-ismillah, dan kemudian di seluruh Al-Qur’an.

Mendiang Hamdi Yazir, dalam Tafsir Al-Qur’an-nya; Ahmed Avni Konuk, dalam penafsirannya terhadap Fusus-al Hikam (Mutiara Hikmah oleh Ibnu Arabi) dan Abdulaziz Majdi Tolun dalam komentarnya terhadap Insan-I Kamil(Manusia Sempurna) semuanya telah memberikan peringatan yang cukup mengenai kebenaran ini.

Saya pun, sejauh kemampuan saya, mencoba mengevaluasi ayat-ayat dari kitab mulia ini dari sudut pandang kebenaran ini; dengan mengambil perhatian khusus dimana  huruf B digunakan dan makna apa yang dicakupnya dalam posisi khusus ini.

Ayat ‘B-ismillah’ menekankan pentingnya MEMBACA Qur’an dengan kewaspadaan akan makna yang disiratkan oleh huruf B. Huruf B menunjuk kepada realitas bahwa semua kesenangan atau kesedihan yang dialami seseorang, yang dihasilkan dari realitas batinnya sendiri, sesuai dengan makna-makna yang diproyeksikan dari esensinya. Huruf Bmengatakan kepada kita bahwa pengalaman surga atau neraka seseorang adalah akibat langsung dari tindakan-tindakannya; yakni, apa yang mewujud melalui seseorang adalah berdasarkan Nama-nama yang melekat di dalamnya. Makanya, ‘B-ismillah’  diulang pada setiap permulaan surat…  mengingatkan kita akan kebenaran ini.

Menurut pemahaman saya, ‘B-ismillahirrahmanirrahim’ adalah satu surat di dalam dirinya sendiri.

Adalah mustahil memahami Al-Qur’an tanpa pertama-tama memahami tujuannya, yang ditandai oleh Realitas Absolut yang ditunjuk oleh nama Allah, yang berdasarkan pada Al-Qur’an sendiri serta ajaran dari manusia yang paling hebat yang pernah hidup di muka bumi, Muhammad Mustafa (saw).

Jika tujuan ini tidak diketahui, pendekatan yang diambil terhadap Al-Qur’an pun akan salah; menganggapnya seolah sebagai kitab sejarah, kitab kebajikan, kitab aturan sosial, atau kitab yang mengandung ilmu jagat raya, dll.

Sedangkan kebenaran yang paling penting, yang nampak nyata bagi pemBACA yang tidak mempunyai prasangka atau prakondisi, adalah petunjuk-petunjuk yang memungkinkan seseorang meninggalkan pandangan mendua, serta ajaran mengenai cara-cara dimana kesadaran dapat dibersihkan menuju realitas ini. Karena cara mereka diciptakan, manusia adalah mahluk abadi (immortal)! Mereka hanya merasakan kematian dan, dengan mengalami alam-alam keberadaan baru (ba’th) secara sinambung, mereka melanjutkannya dengan suatu kehidupan yang kekal!

Kematian adalah Kiamatnya seseorang, dimana tirai tubuh diangkat dan ia pun melihat realitas dirinya, dan kemudian mulai menjalani akibat-akibat dari seberapa banyak mereka mampu menggunakan realitas ini selama kehidupan mereka di bumi. Ketika Anda MEMBACA, Anda akan melihat beragam gambaran mengenai hal ini di sepanjang buku ini.

Karenanya…

Manusia harus mengetahui dan memahami realitas mereka sendiri dan menjalani hidup mereka sesuai dengan itu, sehingga mereka dapat menggunakan potensi yang muncul dari Realitas mereka dan mendapatkan kehidupan surgawi… yakni, tentunya, jika Rabb mereka (Nama-nama yang mencakup esensi mereka) telah memungkinkan mereka untuk melakukan itu! Tindakan kembali kepada Rabb seseorang, seharusnya bukan kembali secara eksternal, melainkan kembali secara internal menuju Realitas dirinya, seperti halnya shalat – kembali ke dalam menuju esensi diri seseorang.

Pada titik ini, kita harus memperhatikan hal-hal berikut:

Menurut pemahaman saya (dan seperti telah saya coba jelaskan di dalam buku saya Perbarui Diri Anda [Renew Yourself]), struktur yang saya rujuk sebagai ‘jagat di dalam jagat’, berkenaan dengan realitasnya, adalah sebuah gambar kerangka tunggal multidimensi, atau, sebuah ‘ilmu holografik tunggal – sebuah samudra energi’ dengan semua dimensi-dimensinya. Keseluruhan samudera ini terkandung di dalam tiap tetesnya. Ini adalah potensial kuantum! Seperti dinyatakan Rasulullah (saw) dengan kata-kata: “Bagian mencerminkan keseluruhan!”

 Seperti telah saya coba jelaskan secara rinci di dalam buku saya Allahnya Muhammad, tidak ada keberadaan ‘lain’ (konsep, kandungan, atau bentuk) yang dapat diserupakan atau disamakan, dengan cara apapun, dengan Yang Esa yang ditunjuk dengan nama ALLAH.

Karena realitas ini, semua yang tercerahkan mulai dari rantai perenungan dan pengamatannya Hazrat Ali dan Hazrat Abu Bakar, yang dirujuk dalam Al-Qur’an sebagai ‘yang kedua dari yang dua’, semuanya telah mengukuhkan realitas yang sama: “Hanya ada Allah, dan tidak ada yang lain!” Inilah sebabnya mengapa mengamati dan mengevaluasi kesempurnaan universalNya (hamd) hanyalah kepunyaan Allah! Karena sama sekali tidak ada yang lain, Allah adalah evaluator (penilai) terhadap DiriNya Sendiri!

Dualitas adalah pemikiran yang tidak absah dan menyesatkan!

Manusia sampai kepada pertimbangan yang keliru ini dengan khayalan-khayalan mereka, menjadi terhijab (kufur) kepada Kesatuan sejati di balik persepsi yang keliru dari keserbaragaman! Sebagai akibatnya, orang-orang menjalani hidupnya dengan meyakini bahwa diri mereka hanyalah tubuh material yang pada akhirnya akan mati dan dibuang ke ketiadaan; atau mereka beranggapan adanya sosok Tuhan eksterior, baik itu yang ada di atas sana (di langit) atau di dalam dirinya (syirik)!

Sedangkan menurut umat Allah, yang mendasarkan pandangannya pada Al-Qur’an dan Rasulullah, inti dari masalahnya adalah:

‘HU,’ sama sekali tiada yang lain, lihat ilmuNya, dengan ilmuNya, yakni sifat-sifat (potensial kuantum) yang ditunjuk oleh Nama-nama Yang Indah (Asmaul Husna), di dalam ilmuNya (dimensinya ilmu)… Tindakan melihat (mengamati) ini tidak memiliki awal ataupun akhir. HU jauh dari terkondisikan atau terbatasi oleh apa yang dilihatNya (yakni, HU itu Ghani  dari [tidak bergantung kepada] seluruh alam.)

Karenanya, semua alam dan segala sesuatu yang dicakupnya, yang sebelumnya tiada menjadi ada dengan adanya fitur-fitur dari Nama-nama, melalui tindakan melihat ini!

Segala sesuatu di dalam dunia konseptual bagaikan perwujudan beragam komposisi dari Nama-nama Allah, yang dirujuk secara ringkas sebagai Nama-nama (al-Asma). Ini serupa dengan ratusan atom yang menyusun seluruh dunia material dengan semua bentuk dan mahluknya yang tak terhitung.

Bahkan mungkin dapat kita katakan, potensial kuantum non-lokal abadi sedang mengamati dirinya dari titik pandang Nama-nama. Hazrat Ali MENGINGATKAN. “ilmu adalah satu titik, namun mereka yang jahil telah melipatgandakannya” menunjuk kepada realitas bahwa potensial kuantum adalah sebuah titik tunggal, yang mewujud menjadi yang terindera menurut si pengindera, karenanya para pengindera ini lah yang disebut sebagai orang-orang jahil.

Meskipun Nama-nama Yang Indah (Asmaul Husna) umumnya dianggap berjumlah 99 dalam arti luas, berkenaan dengan rinciannya nama-nama ini jumlahnya tidak terhingga.

Semua benda yang terindera dan tak-terindera terbuat dari fitur-fitur yang ditunjuk oleh Nama-nama (Allah); karenanya, tindakan penciptaan ini dirujuk sebagai ‘Rabbnya Alam-alam.’ Kata Rabb adalah komposisi-Nama yang menyusun individu yang terindera.

Frase ‘b-izni Rabb’ yang secara harfiah berarti ‘dengan ijin Rabb’ merujuk kepada kecocokan komposisi-Nama terhadap situasi khusus tersebut.

Frase ‘b-iznillah’ yang berarti ‘dengan ijin Allah’ dapat menunjuk kepada dua arti, bergantung konteksnya. Yakni, merujuk kepada kecocokan dan ketepatan dari komposisi-Nama kepada tujuan penciptaan alam-alam, ataukecocokan komposisi-Nama kepada tujuan keberadaan individual. Karena tidak ada Uluhiyyah ‘lain’ selain Yang Esa.

Karena keEsaan inilah Al-Qur’an menekankan konsep akibat (jaza) dan meneguhkan bahwa semua individu akan menjalani akibat-akibat dari perilaku yang berasal dari mereka. Inilah sebabnya mengapa ada pengulangan fakta di sepanjang Al-Qur’an bahwa ‘masing-masing akan menjalani akibat-akibat dari perbuatan-perbuatannya, karena tidak ada Tuhan yang mendzalimi atau menghukum.’

Kalimat ‘semua individu akan diberi hak yang semestinya’ bermakna bahwa apapun yang diperlukan untuk terpenuhinya tujuan keberadaan individual akan diberikan sesuai dengannya.

Takwa  secara umum difahami sebagai perlindungan atau ‘terlindungi dari murka Allah.’ Yang dikiaskan kata ini sebenarnya adalah perlindungan yang mesti seseorang ambil untuk menghindari keterlibatannya kepada perilaku-perilaku yang bisa menghasilkan ekspresi-ekspresi Nama-nama yang tidak menguntungkan yang dengannya ekspresi itu tercipta, karena setiap orang pasti akan menjalani akibat-akibat dari perbuatannya sendiri.

Seperti telah saya katakan, Al-Qur’an bukanlah kitab tertulis yang dikirim ke bawah (diturunkan) dari Tuhan di atas sana kepada nabi-kurirNya di muka bumi melalui mahluk perantara tertentu. Ia adalah ILMU tentang realitas dan Sistem (sunnatullah), yang diwahyukan (secara dimensional) kepada kesadaran beliau, dari Rabb beliau, yakni Nama-nama yang mencakup realitas esensial beliau.

Dalam pandangan mereka yang tercerahkan, Al-Qur’an adalah ‘konfirmasi’ dalam tampilan sebuah ‘proposal.’

KITAB ini menyinggung ILMU tentang Realitas dan Sistem (sunnatullah).

Dipandang dari keberadaannya sebagai Ilmu tentang Realitas, kitab ini mengungkapkan Realitas dari segala sesuatu, baik yang terindera maupun yang tidak terindera. Dipandang dari keberadaannya sebagai Ilmu dari Sistem (sunnatullah), kitab ini menjelaskan mekanika dari Sistem dan Tatanan dari dimensi-dimensi  yang di dalamnya mahluk-mahluk individu akan tinggal selamanya.

Manusia adalah khalifah di muka bumi. Ini dapat difahami baik sebagai planet maupun sebagai tubuh. Karena manusia lebih dari sekedar tubuh. Dan ketika manusia meninggalkan tubuhnya, keberadaan berkelanjutan yang tidak terbatas akan terus berlangsung melewati beragam bentuk kebangkitan kembali (ba’th).

Semua proposal yang dibuat terhadap manusia ditujukan agar mereka bisa mengetahui diri sejati mereka dari sudut pandang Realitas mereka dan menjalani tuntutan-tuntutannya, menemukan dan menggunakan fitur-fitur intrinsik mereka. Semua larangan, di sisi lain, pada dasarnya untuk mencegah agar manusia tidak tersesat dengan berpikiran bahwa mereka adalah tubuh fisik mereka, dan karenanya menyia-nyiakan potensi yang diberikan kepada mereka pada hal-hal yang egoistik, kesenangan-kesenangan jasmani yang tidak berarti apapun setelah mereka merasakan kematian. Karena potensi saat ini telah diberikan untuk menemukan Realitas mereka dan mencapai keindahan dari kehidupan saat ini dan yang akan datang.

Jika karya ini bisa membantu dalam mengevalusi Al-Qur’an dengan lebih baik, dengan kelemahan yang saya miliki, saya bersyukur atas rahmat yang demikian. Karya-karya saya merupakan tuntutan kewajiban dari kehambaan saya. Keberhasilan hanyalah karena pertolongan dan berkat dari Allah! Saya juga mohon maaf atas segala kekurangan dan kesalahan saya. Karena mustahil bagi seorang hamba untuk mengevaluasi kata-kata Allah dengan sepatutnya!

 

 

AHMED HULUSI

25 Oktober 2008

North Carolina, USA